Makna Syiiran Gus Dur
Makna Lugas dari Syiiran Gus Dur dalam bahasa Indonesia, sedangkan kandungan makna yang tersirat dalam syiiran Gus Dur, akan Kami Update di bagian bawah dari tulisan ini. Silakan simpan laman ini atau bisa juga di bookmark karena artikel akan kami update dengan uraian dari makna Syiiran Gus Dur dalam perspektif tasawuf. telah kami update dengan video yang dapat Anda saksikan ataupun Anda Download Videonya. Format videonya: mp4, 3gp, flv, wmv, dvd dll
Yarosulalloh salammun’alaik… Yaarofi’asaaniwaddaaroji… ‘atfatayaji rotall ‘aalami… Yauhailaljuu diwaalkaromi… Ngawiti ingsun nglarasa syi’iran Kelawan muji maring pengeran Kang paring rohmat lan kenikmatan Rino wengine tanpo petungan. (Kumulai menguntai syairan Dengan memuji pada Tuhan Yang merahmati dan memberi nikmat Siang malam tanpa hitungan )

Syiiran Gus Dur
Categories: Tasawuf Tags: Gus Dur, islam, kata kata bijak, kata kata mutiara, makrifat, Puisi, sufi, suluk, tasawuf, tasawwuf
Nur Ilahiyyah, Cahaya di atas Cahaya
Tentang Cahaya di atas Cahaya terdapat dalam Surah an Nur ayat 35 – 38.
Allah (memberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan (bintang yang bercahaya) seperti mutiara yang menyalakan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya yang minyaknya saja menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) Allah membimbing kepada cahayanya, siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan pada waktu petang, lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah dan dari mendirikan solat dan dari membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari (yang dihari itu) Hati dan penglihatan menjadi goncang. Mereka yang mengerjakan demikian itu supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dan supaya Allah menambahkan kurnianya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki pada siapa yang dikehendakinya.” (An-Nur: 35-38) Read more…
Categories: Tasawuf Tags: Cahaya, islam, Nur, Nur Ilahi, Nur illa Nur, Nur Muhammad, Nurun Nur, sufi, tasawuf, tasawwuf
Asmaul Husna, Arti, Keutamaan dan Cara Mengamalkannya
Asmaul Husna adalah nama-nama indah yang dimiliki oleh Allah swt. Asmaul Husna merupakan cerminan dari perilaku Allah SWT terhadap umatnya. Karena itu bila nama-nama itu kita sebut sebagai suatu pemohonan, maka akan mempunyai pengaruh yang sangat besar, semoga Allah swt mewujudkan keinginan Anda. Dan berhati-hatilah dalam mengamalkan Asmaul Husna, karena Setan akan datang menggoda !!!
Berikut keutamaan Asmaul Husna Husna pada tiap-tiap nama dan cara mengamalkannya: Read more…
Categories: Tasawuf Tags: amalan, Amalan kaya, Amalan Kelancaran Rejeki, Amalan untuk Melunasi Hutang, Asmaul Husna, nama-nama Allah, tasawwuf, Tip
Kebeningan Kolbu, Syeh Ahmad Badawi
Thoriqot Ahmadiyyah didirikan oleh Syayyid Ahmad Badawi ( lahir 596 H, meninggal dunia 675 H ). Dia lahir di Marocco, pergi ke Makkah, lalu ke Mesir dan menetap di kota Thandtha ( Thantha), sepeninggal Syayid Ahmad Badawi, kepemimpinan Tariqoh Ahmadiyyah di pegang muridnya ‘Abdul Muta’al al-Anshari ( meninggal dunia tahun733 H ). Read more…
Categories: Tokoh Sufi Tags: Cinta Sufi, muhammad, shaykh, sufi, Syayyid Ahmad Badawi, tariqa, Tariqat, tasawwuf
Dialog Tuhan dan Musa as di Bukit Thursina
“Dan tatkala Musa datang untuk bermunajat pada waktu yang kami tentukan, dan Tuhan-Nya berbicara kepadanya, maka Musa berkata : Ya Tuhanku, nampakkan (Dirimu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu”. “Tuhan berfirman: “Kamu tidak akan dapat melihat-Ku, tetapi lihatlah bukit itu, bila bukit itu tetap di tempatnya (seperti semula) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhan tajalli / tampak pada bukit itu, kejadian itu menyebabkan bukit itu hancur dan Musapun pingsan. Setelah Musa sadar kembali dia berkata : “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang pertama yang beriman”. (QS. Al-Araf 7 : 143) Read more…