Tag: Kisah Para Wali

Sunan Bayat, Sunan Pandanaran, Ki Ageng Pandanaran

Sunan Bayat (nama lain: Pangeran Mangkubumi, Susuhunan Tembayat, Sunan Pandanaran (II), Ki Ageng Pandanaran, atau Wahyu Widayat) adalah tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang disebut-sebut dalam sejumlah babad serta cerita-cerita lisan. Tokoh ini terkait dengan sejarah Kota Semarang dan penyebaran awal agama Islam di Jawa, meskipun secara tradisional tidak termasuk sebagai Wali Sanga. Makamnya

Sunan Sendang Duwur Boyong Masjid dalam Semalam

Sunan Sendang Duwur Sunan Sendang Duwur bernama asli Raden Noer Rahmad adalah putra Abdul Kohar Bin Malik Bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad (lrak). Raden Nur Rahmad lahir pada tahun 1320 M dan wafat pada tahun 1585 M. Bukti ini dapat dilihat pada pahatan yang terdapat di dinding makam beliau. Beliau adalah tokoh

Kisah Wali Allah dan Sufi Tua

Di sebuah Desa di daerah Sumatera tinggallah orang tua yang telah berumur 70 tahun. Sewaktu muda dia sangat rajin beribadah, namun ketika sudah tua mulai malas-malasan bahkan tidak pernah lagi melaksanakan shalat juga ibadah-ibadah lain. Suatu hari ada seorang Wali Allah datang kekampungnya memberikan ceramah, kakek tua tadi ikut mendengarkan ceramah Wali tersebut. Tentu saja

Syeh Abu Syamsudin Batu Ampar Dadanya Bercahaya

Permalink to Syeh Abu Syamsudin Batu Ampar Dadanya Bercahaya
Kisah hidup putera tunggal Syekh Basyaniyah ini tidak berbeda dengan perjalanan hidup yang pernah ditempuh oleh Ayahanda dan Buyutnya yakni gemar bertapa dan selalu menyendiri bertirakat serta selalu berpindah-pindah tempat dalam melakukan pertapaannya, misalnya salah satu tempat pertapaannya yang ditemukan di dekat kampung Aeng Nyono’ yang nama wilayah tersebut berada di tengah hutan yang cukup

Wali-Wali Allah Yang Aneh di Beberapa Daerah

Permalink to Wali-Wali Allah Yang Aneh di Beberapa Daerah
Wali-wali Allah Banyak yang dimasyhurkan setelah wafatnya, di antaranya adalah Mbah Priok. Sebelumnya, Wali Allah itu tersembunyi (mastur), tetapi karena kehendak Allah jua akhirnya Beliau-beliau itu ‘tampak ke permukaan’. Banyak tanda kewalian seseorang terbuka secara nyata setelah terlihat jasadnya utuh (tidak hancur) ketika dipindahkan. Sebenarnya banyak Wali-wali Allah yang disatarkan (tidak masyhur) khususnya di Pulau Jawa