Syekh Siti Jenar : Manunggaling Kawula Gusti

Selamat datang di Walijo.com. Terima kasih telah sudi untuk membaca artikel ini, semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda dan bagi kami.

Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.

Tidak terdapat cukup bukti bahwa Syeh Siti Jenar menolak ajaran Syari’at, namun syangnya informasi umumnya sampai kepada masyarakat Syekh Siti jenar dianggap menolak kewajiban syari’at.

Ajaran Syekh Siti Jenar dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo. Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.

Syekh Siti Jenar mengajarkan konsep yang sangat kontroversial pada saat itu, yaitu  konsep tentang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan,  serta tempat berlakunya syariat tersebut.  Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian.  Sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum sebagai kematian justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi.

Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahapan ;

1. Syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama spt sholat, zakat dll);

2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu;

3. Hakekat, dimana hakekat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan

4. Ma’rifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya. Bukan berarti bahwa setelah menempuh Makrifat terus meninggalkan tingkatan sebelumnya.

Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Wali songo khawatir jika ada salah paham dalam menyerap yang  disampaikan oleh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang harus disampaikan adalah pada tingkatan ‘syariat’.  Sedangkan ajaran Siti Jenar sudah memasuki tahap ‘hakekat’ dan bahkan ‘ma’rifat’ kepada Allah (kecintaan dan pengetahuan yang mendalam kepada ALLAH). Oleh karenanya, ajaran yang disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan kata ‘SESAT’.

Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun,  setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa. Hanya saja masing – masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda – beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing – masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.

Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.

Manunggaling Kawula Gusti

Pengikut dari Syekh Siti Jenar, menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi bersatu dengan Tuhannya.

Dan dalam ajarannya, ‘Manunggaling Kawula Gusti’ adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan,  sesuai dengan Firman Allah dalam Al Qur’an

(“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila tlah Ku-sempurnakan kejadiannya dan Ku-tiupkan kepadanya roh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)”).

Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi.

Perbedaan penafsiran ayat Al Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham ‘Manunggaling Kawula Gusti’.

Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini sering temui manusia yang mengalami hal ini terutama dalam agama Islam yang sering disebut zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Illa yang maha Agung atau Allah.

Pada saat  keinginan sudah melebur terhadap kehendak Allah, maka dia hanya memikirkan  Allah. Dalam pandangan hakikatnya tidak tampak hakikat manusia  tapi hanya hakikatlah  Allah , Setiap Kejadian adalah maksud Allah terhadap Hamba ini…. dan inilah yang dibahayakan karena apabila tidak ada GURU yang Mursyid yang berpedoman pada AlQuran dan Hadits maka hamba ini akan keluar dari semua aturan yang telah ditetapkan Allah untuk manusia.Karena hamba ini akan gampang terpengaruh syaitan, semakin tinggi tingkat keimanannya maka semakin tinggi juga Syaitan menjerumuskannya.

Karena apabila telah melewati masa ini maka hamba tersebut harus turun agar bisa mengajarkan yang HAK kepada manusia lain seperti juga Rasullah pun telah melewati masa ini dan apabila manusia tidak mau turun tingkatan maka hamba ini akan menjadi seprti nabi Isa AS. Maka Nabi ISA diangkat Allah beserta jasadnya.  Kematian Syekh Siti Jenar menjadi kontroversi. Dalam masyarakat jawa kematian ini disebut “MUKSO” ruh beserta jasadnya diangkat Allah.

Kontroversi yang lebih hebat terjadi di sekitar kematian Syekh Siti Jenar. Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para pejabat kerajaan Demak Bintoro. Di sisi kekuasaan, Kerajaan Demak khawatir ajaran ini akan berujung pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga adalah keturunan elite Majapahit (sama seperti Raden Patah) dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.

Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Demak Bintoro, khawatir ajaran iniakan menyesatkan. Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan satu tindakan bagi Syekh Siti Jenar yaitu harus segera menghadap Demak Bintoro. Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tak cukup untuk dapat membuat Siti Jenar memenuhi panggilan Sri Narendra Raja Demak Bintoro untuk menghadap ke Kerajaan Demak. Hingga konon akhirnya para Walisongo sendiri yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Siti Jenar berada.

Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.

Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Siti Jenar. Menurut Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin memboe-noeh Siti Jenar. Karena beliau dapat meminum tirtamarta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menjelang kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.

Tak lama, terbujurlah jenazah Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang benar-benar pandai yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo dan Ki Pringgoboyo pun mengakhiri “kematian”-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.

Terdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang shalat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya kilau kemilau memancar dari jenazah Siti Jenar.

Jenazah Siti Jenar sendiri dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain.

Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki. Di antaranya yang terceritakan adalah Kiai Lonthang dari Semarang Ki Kebo Kenanga dan Ki Ageng Tingkir.

Mari kita berbagi artikel ini di Facebook atau Twitter. sehingga teman teman Anda juga bisa membaca artikel ini. Silakan dibookmark atau simpan laman ini agar Anda bisa dengan mudah membaca artikel ini lagi dilain waktu. Jangan Lupa untuk meninggalkan jejak di artikel ini, dengan menulis komentar, Terima Kasih...

Recent search terms:

Tags: makrifat sufi Syekh Siti Jenar tasawuf

Related Post "Syekh Siti Jenar : Manunggaling Kawula Gusti"

Abu Hafsh Syihabuddin al-Suhrawardi al-Baghdadi
Suhrawardi al Maqtul , Yang mempunyai nama
Rabiah al-Adawiyyah: Mahabbah Cinta
Banyak Ajaran sufi yang diriwayatkan berasal dari
Puisi Sufi : Ruh
RUH Wahai Ruh yang masih bertempat di
  1. author

    Ato'6 years agoReply

    Menurut Aku, Syekh Siti Jenar terjebak dalam situasi politik di Kerajaan Demak saat itu, sekaligus difitnah oleh orang yg takut kekuasaanya goyah. Sebab pengikut Syekh Siti Jenar banyak. … maaf jika saya lancang

  2. author

    brutus6 years agoReply

    saya setuju dengan pendapat ato’,g usah takut n bilang lancang bro…kita hidup di negara bebas kok,bahkan Tuhan pun membebaskan kita untuk memilih jalan yang mana dalam pencarian kita akan Dia….saya sepaham dengan syekh siti jennar…

  3. author

    Fahruddin Salim6 years agoReply

    Syech siti Jenar dan Wali Songo sama-sama benar. Syech Siti mengajarkan hakekat yang sesungguhnya adalah puncak dari ibadah syariahnya. Para wali sanga mementingkan dulu syariah karena agama Islam harus dijalankan bukan hanya dihayati. Jika ajaran Syech siti jenar meluas, maka agama Islam nanti tidak ada ritual seperti sholat zakat haji tetapi hanya sekadar di hayati.Berkat wali songo yang ditopang kerajaan Demak, maka Islam menjadi tersebar di tanah Jawa.

    • author

      Walijo (Author)6 years agoReply

      Insya Allah semua dalam Kebenaran,….

  4. author

    erosiansyahrial6 years agoReply

    Apa yang diajarkan kanjeng Syekh Siti jenar ajaran yang luhur&mempunyai arti yang mendalam dalam ajaran islam di tanah jawa,akan tetapi karena para wali takut kehilangan wibawa&kekuasaan pada kerajaan demak bintoro&ilmu dari para wali 9 masih agak dibwah Syekh siti jenar maka Kanjeng Syekh Siti Jenar dianggap sesat ajarannya maupn orgny

  5. author

    muhammad6 years agoReply

    Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa. Hanya saja masing – masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda – beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing – masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.

    bukan begitu mas… yg bener agama yg diridhoi adalah agama islam. tidak ada tu tuhan anak tuhan bapak dan tuhan air, tuhan tanah, tuhan matahari… tuhan itu hanya satu. yg punya kitab selain Al Qur’an coba pelajari lagi kitabnya. apa benar kitabnya itu masih suci…

  6. author

    ibnu khotim6 years agoReply

    Subhanallah…

  7. author

    Hari Patmono6 years agoReply

    Subehanallah yg sy herankan kenapa para Wali tidak mau menyiarkan ajara Syech Sisi Jenar padahal ajaran itu diakui kebenaranya dan telah terbukti sampai wafatpun telah ditunjukan kebenaran oleh Alloh

  8. author

    al bladu6 years agoReply

    menurut saya kisah siti jenar kontroversi ini adalah stigma ajaran yg di tujukan umat muslim untuk bisa di tela’ah dan di pahami,ini juga suatu kisah legend yang bagus menurut saya keren dan muslim is never flat and great in the art …..

  9. author

    wisnu6 years agoReply

    Tuhan itu satu, satu iyu tunggal , tunggal itu esa, TUHAN itu tidak terikat oleh dimensi waktu dan tempat, maka Tuhan itu bisa dimana – mana dalam waktu yg bersamaan,berpikirlah yg luas …bro….

  10. author

    djebat6 years agoReply

    Semoga Allah swt merahmati mereka semua yang di dalam kebenaran.

  11. author

    Trust6 years agoReply

    Ajaran syech siti jenar adalah ajaran tertinggi terhadap kesempurnaan iman kepada Allah yang seharusnya dicapai oleh seorang mu’min. Tidak ada yang salah dengan ajarannya, hanya saja metode pengajaran dan objek ajarannya cukup rentan terhadap kesesatan.Secara individu saya yakin SSJ telah mencapai derajat tertinggi seorang mu’min. Tapi mungkin tidak dengan sebagaian para pengikutnya… karena syetan tidak akan senang jika semua kita mencapai taraf keimanan seperti yang dimiliki oleh beliau. mohon ampun kepada Allah, dan Mohon maaf jika pendapat saya berseberangan dengan akhi yang lain..

  12. author

    lubis5 years agoReply

    Kalau menurut saya, Ajaran syeh siti jenar&walisongo benar adanya,cuma bagi yg ingin belajar hakikat,ma’rifat(ajaran syeh siti jenar)harus terlebih dahulu belajar syari’at(ajaran walisongo).

  13. author

    arman5 years agoReply

    Kebenaran punya AllOH SWT

  14. author

    masjk5 years agoReply

    riwayat syekh siti jenar yang patut di baca karangan dari agus sunyoto. dia mengkhususkan diri mengumpulkan seluruh informasi tentang syekh siti jenar.

    syekh siti jenar melaksanakan seluruh syari’at. pemahaman yang terlontar tidak sekedar kalimat yang “wah”, tapi memang harus di “kaji”.

    beliau sudah “pemakai” syariat bukan lagi “tukang” syariat (sekedar menggugurkan kewajiban).

    salam kenal.

  15. author

    riant795 years agoReply

    mohon ijin utk komentar sedikit bila salah saya minta maaf,kalau saya kaji ajaran syeh siti jenar itu intinya kita hrs bisa menyatu dgn alloh sedangkan utk itu kita hrs menghilangkan penghalang / dinding antara manusia dan alloh,sedangkan pemisah antara muhammad dan alloh itu nafsu,jadi kalau kita mau menyatu dgn alloh kita hrs bisa ngilangi yg nmnya nafsu,dan merubah cara pandang kita kpd apapun bentuk dan nmnya hrs kita pandang 1,dgn kata lain pandang lah 1 kpd yang bnyk,dan pandanglah bnyk kpd yg 1.jadi inti semua ajaran itu adalah ” HAKEKAT SEMATA “,dan bila telah makrifat tp tidak bermakrifat lg alias lepas semua embel2/ tikatan2 itu,dan hanya segelintir orang yg bisa mencapai makom itu,krn orang itu bisa di sebut telah mencapai ZAZAM ( penelanjangan )tuhan,mkin itu dulu yg bisa saya sampaikan bila ada yg salah sy mohon maaf,krn sy jg ingin bljr lbh dlm ttg ajaran ini dan mohon tanggapannya utk kita bljr bersama amien wasalam.

  16. author

    edi rahadi5 years agoReply

    menurutku, ajaran Syech Siti jenar ini mengajak kita berbuat jujur, jujur trhadp Tuhan dan diri sendiri krna dimana kita disanalah Tuhan berada.. Kita hrs menyadari bhw diri kita ini didlm pengawasan Kesadaran yg tak terbatas.Segala perbuatan kita Tuhan pasti mengetahui. Namun nyatanya banyak umat Islam yg tdk dpt mengamalkan prilaku demikian, yg sebenarnya ini adalah inti dprd agama. Kebanyakan bohongnya…ma’af

  17. author

    Aphox5 years agoReply

    Tidak ada yang patut dipersalahkan dalam masalah ini, tapi kita harus bisa mengambil hikmah yang terkandung dalam cerita di atas.
    Wassalam.

  18. author

    Agus H 'Kriipa'4 years agoReply

    memahami Islam dalam perkembangan abad 15, banyak muallaf saat itu, bahwa bahaya jika ajarn Siti Jenar terus berkembang, Insyllah para wali sudah mendapat ‘isyaroh’ dari Allah untuk mengambil tindakan itu. Tragedi dlm Sejarah, tentu ada pelajaran di balik semua itu…

  19. :: Pondok Pesantren Al-Mubtadi-in :: - Nama nama tokoh sufi4 years agoReply

    […] Syekh Siti Jenar : Manunggaling Kawula Gusti […]

  20. author

    moniq4 years agoReply

    Maha Suci ALLAH dri smua ketidaksempurnaan yg ad pd mahluk-Nya.

  21. author

    ananda putra jember4 years agoReply

    memang benar dan saya meyakini 🙂

    ajaran yg diajarkan syeh siti jenar : Dan dalam ajarannya, ‘Manunggaling Kawula Gusti’ adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan, sesuai dengan Firman Allah dalam Al Qur’an

    (“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila tlah Ku-sempurnakan kejadiannya dan Ku-tiupkan kepadanya roh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)”)

Leave a reply "Syekh Siti Jenar : Manunggaling Kawula Gusti"