Sang Sufi Kepala Ikan

SANG SUFI KEPALA IKAN

loading...
loading...

Saudara-saudara mungkin sudah sering ya mendengar cerita ini, tak apa sambil ngabuburit saya akan ceritakan lagi.

Saat Syech Ibnu Arabi di Tunisia beliau sempat memiliki murid seorang nelayan yg sangat miskin, namun kelebihan si nelayan ini adalah selalu membagi bagikan ikan hasil tangkapannya kpd penduduk kampung dan ia cuma mengambil sepotong kepala ikan sebagai lauk makannya dan ini sudah berlangsung berahun tahun.hasanal basri,Wafatnya Imam Syafii,ibnu arabi

 

Sufi nelayan ini makin terkenal ke pelosok negeri sehingga banyak orang yg datang untuk belajar tentang kearifan kpd beliau walau kehidupannya sebagai nelayan tidak pernah ditinggalkannya.

Tidak terasa sudah tiga tahun ia tidak bertemu dengan gurunya Syech Ibnu Arabi yg konon saat ini yg ia dengar Syech Ibnu Arabi sudah pindah ke Murcia – Spanyol (saat Constantinofel masih dibawah kekuasaan Turky Otoman).

Suatu hari si Sufi nelayan itu memanggil murid kesayangannya dan mrk berbicara panjang lebar hingga si guru meminta tolong kpd muridnya untuk menemui Syech Ibnu Arabi di Murcia untuk menanyakan sisi kerohanian dirinya yg terasa tidak ada peningkatan dlm tiga tahun ini.

Maka selang beberapa hari berangkatlah murid si sufi ini menuju Murcia -Spanyol. Cukup lama waktu yg dibutuhkan si murid untuk sampai di Murcia, hingga tibalah siang itu si murid disebuah pasar di Murcia. Lantas ia bertanya kpd seorang pedagang tentang keberadaan Syech Ibnu Arabi, maka dijawab si pedagang ” oh…semua orang pasti mengenal beliau, beliau salah satu penguasa di Murcia sini dan itu istananya!!” Seraya iya menunjuk sebuah castil yg indah diatas bukit.

Dengan keterangan dari si pedagang itu si murid jadi ragu, apakah benar ini adalah Ibnu Arabi yg dimaksud?
Dlm benaknya guru dari gurunya ini pastilah lebih kurang seperti gurunya di Tunisia yg miskin dan sederhana??

Baca juga:  Karomah Syaikh Abdul Qodir Jailani : Melihat Malaikat

Berkecamuk pertanyaan dihatinya.
Hingga sampai di istana Syech Ibnu Arabi maka semakin sedikit kepercayaannya krn melihat istana yg megah, taman taman indah dan dayang dayang serta para pengawal istana yg kesemuanya sangat wah!!.

Singkat cerita si murid dipersilahkan masuk dan menunggu Syech Ibnu Arabi di ruang khusus untuk tamu yg akan bertemu, sungguh semakin ragu hatinya, apakah benar ini orangnya?
Apakah benar penguasa ini adalah seorang sufi?
Atau mungkin ia sudah meninggalkan jalan kesufiannya?
Banyak pertanyaan dikepalanya. Hingga suatu saat namanya dipanggil dan dipersilahkan masuk ke ruang kerja Syech Ibnu Arabi.

Setelah memperkenalkan diri dan di iyakan oleh Syech bahwa guru dari si tamu itu adalah muridnya sendiri, maka hilanglah kepercayaan tentang kesufian syech Ibnu Arabi, krn menurutnya sufi itu harus dzuhud dng dunia dan hidup miskin namun kenyataan yg didapatkan bertolak belakang.

Terlebih saat menanyakan tentang pesan dari gurunya “kenapa kerohanian gurunya tidak ada peningkatan??” Dijawab syech dng jawaban yg sangat menyakitkan hatinya, syech menjawab bahwa ” gurunya itu masih terikat dengan keduniawian”.
Si murid sangat marah mendapat nasehat yg baginya merupakan penghinaan, sudahlah gurunya miskin tetapi sangat dermawan…eh..malah dikata masih terikat hal duniawi. Apa dia syech tidak mengukur diri nya sendiri yg sudah kaya raya dan berkuasa?

Namun ia pendam rasa marahnya itu, dan pulang lah ia. Setelah berminggu minggu barulah sampai kembali di kampung halamannya. Setelah cukup istirahat maka ditemuinyalah gurunya itu. Si guru sufi langsung menanyakan nasehat apa yg disampaikan syech?
Tapi si murid selalu berusaha membelokkan arah pembicaraan, krn si murid tak mau gurunya itu sakit hati dng hinaan dari Syech Ibnu Arabi.

Baca juga:  Rosululloh dan Pengemis Yahudi

Tapi karena si guru terus memaksa, akhirnya dengan berat hati dan meminta maaf maka tersampaikanlah pesan nasehat dari Syech bahwa si guru masih terikat dng dunia.!!

Mendengar perkataan muridnya demikian maka lunglai lah tubuh si guru lalu ambruk dan menangis sejadi jadinya memohon ampunan Allah swt.
Setelah agak tenang beberapa saat maka si murid yg kaget dan keheranan bertanya “ada apa dan kenapa duhai guru??”

Gurunya menjawab : ” wahai muridku sungguh benar apa yg dikatakan beliau itu, sesungguhnya setiap aku makan dengan lauk kepala ikan itu, hatiku selalu berkata ‘waduh seandainya kepala ikan ini masih ada badannya”. Nah itulah dunia yg telah membelengguku selama ini, sementara beliau Syech yg sangat kaya dan berkuasa itu mana perduli dng harta dan jabatan kekuasaannya itu”.

Semoga kita bisa meraih hikmahnya saja, karena yg dimaksud dzuhud itu bukan berarti tidak memiliki harta, tetapi dzuhud itu adalah tidak menyimpan dunia dihati.

loading...

Tags: #Ibnu Arabi

Biografi Imam Syafii
Syafi'i kita mengetahui bahwa Imam Syafi'i lahir di Gaza pada tahun 150 H,
Kisah Nabi Luth as Dan Kaum Sadum Yang Dilaknat Allah
"Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul, ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: "Mengapa
Cara Menjernihkan Hati
Cara Menjernihkan Hati Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Taj al-‘Arus mengatakan: “Terdapat empat
Syeh Abu Syamsudin Batu Ampar Dadanya Bercahaya
Kisah hidup putera tunggal Syekh Basyaniyah ini tidak berbeda dengan perjalanan hidup yang

Tinggalkan pesan "Sang Sufi Kepala Ikan"