Puisi Sufi – Thair Al-‘Uryan, HAMZAH FANSURI

Puisi Sufi si Burung Pingai merupakan karya tasawuf  Hamzah Fansuri dalam Pencapaian Hakikat dirinya, melambangkan jiwa seorang musafir dengan tamsil burung unggas sebagai wujud kebebasan seseorang dan perjalanan rohani seorang dalam mencari jati diri yang sebenarnya.

loading...
loading...

 Thair al-‘Uryan unggas ruhani

Di dalam kandang hadrat Rahmani
Warnainya pingai terlalu sufi
Tempatnya kursi yang maha ‘ali Sungguhpun ‘uryan bukannya gila
Mengaji al-Qur’an dengan tertila
Tempatnya mandi sungai salsabila
Di dalam firdaus ra’su Zanjabila Sungai ini terlalu ‘ali
Akan minuman Thayr al-‘Uryan
Setelah minun jadi hairani
Takar pun pecah belah serahi Minuman itu terlalu larang
Harganya banyak artamu alang-alang
Badan dan nyawa jangan kau sayang
Inilah harga arak yang garang Thayr al-‘Uryan mabuknya salim
Mengenal Allah terlalu alim
Demikianlah mabuk harus kau hakim
Inilah amal Sayyid Abu al-Qasim Minuman itu tiada terbagi
Pada Ramadhan harus kau pakai
Halal Thayyiban pada sekalian sakai
Barang meminum dia tiadakan lalai Minuman itu telalu sufi
Yogya akan syurbaty maulana qadi
Barang meminum dia Tuhan kita radi
Pada kedua alam ia Hayy al-Baqi Minuman itu yogya kau permain
Supaya lupa engkau akan kain
Buangkan wujudmu cari yang lain
Inilah ‘Uryan pada ahl-batin Jikau Engkau kasih akan nyawamu
Terlalu batil sekalian kerjamu
Akulah ‘Uryan jangankan katamu
Orang yang ‘Uryan bukan rupamu
Riya’ dan khayal tiada qabil
Pada orang arif yang sudah kamil Lain dari pada mabuk dan ilmu wasit
Pada ahl-haqiqah sekalian batil Riya’ dan khayal ilmu nafsani
Di manakan sampai pada ilmu yang ‘ali
Seperti bayazid dan Mansur Baghdadi
Mengatakan Ana al-Haqq dan Qawl Subhani Kerjamu itu hai anak dagang
Pada ahl-ma’rifat terlalu malang
Markab tauhid yogya kau pasang
Di tengah laut yang tiada berkarang Hamzah Fansuri di negeri Melayu
Tempatnya Kapur di dalam kayu
Asalnya manikam tiadakan layu
Dengan ilmu dunia dimanakan payu
II
Unggas pingai terlalu ‘asyiq Da’im bermain di kursi khaliq
Bangsanya Rahman yang fa’iq
Menjadi sultan terlalu la’iq Unggas itu tahu berkata
Sarangnya di padang rata
Akan wujudnya sekalian mata
Mengenal Allah terlalu nyata Mazhar Allah akan rupanya
Asma Allah akan namanya
Malaikat akan tentaranya
Akulah wasil akan katanya Syapnya bernama furqan
Tubuhnya bersurat Qur’an
Kakinya Hannan dan Mannan
Da’im bertengger di tangan Rahman Ruh Allah akan nyawanya
Sirr Allah akan anggannya
Nur Allah akan matanya
Nur Muhammad da’im tenggernya Liqa Allah nama ‘ishq-nya
Sawt Allah akan bunyinya
Rahman dan Rahim akan hatinya
Menyembah Tuhan dengan sucinya Bumi langit akan sangkarnya
Mekkah Madinah akan pangkalannya
Bait Allah nama badannya
Di sana bertemu dengan Tuhannya Cahayanya seperti suluh
Bunyinya seperti guruh
Matanya lengkap dengan tubuh
Bulunya da’im sekalian luruh Rupanya akan Mahbubnya
Lakunya akan Marghubnya
Bangsanya akan Matlubnya
Buraq al-mi’raj akan markubnya ‘ilm al-yaqin nama ilmunya
‘ain al-yaqin hasil tahunya
Haqq al-yaqin akan lakunya
Muhammad nabi asal gurunya Syari’at akan tirainya
Tariqat akan bidainya
Haqiqat akan ripainya
Mari’fat yang wasil akan isainya ‘Alam nasut akan hambanya
Perisai malakut akan kutanya
Duldul jabrul nama kudanya
Menyerang laut akan kerjanya Dengarkanm hai anak jamu
Unggas itu sekalian kamu
Ilmunya yogya kamu ramu
Supaya jadi mulya adamu
III
Unggas nuri asalnya cahaya Diamnya da’im di kursi raya
Dari pada nurnya faqir dan kaya
Menjadi insa, tuan dan saya Kuntu kanzan asalnya sarang
‘Alam lahut nama kandangnya
Terlalu luas dengan lapangnya
Itulah kanzan dengan larangnya Aql al-kulli nama bulunya
Qalam al-‘ala nama kukunya
Allah ta’ala nama gurunya
Oleh karena itulah tiada judunya
Jalal dan Jamal nama kakinya
Nur al-awwal nama jarinya Lawh al-mahfudzh nama hatinya
Menjadi jauhar dengan safinya Itulah Ahmad awwal nabinya
Dari nur Allah dengan sucinya
Sekalian alam pancar nurinya
Menjadi langit serta buminya Alam ini asal warnanya
Di sana-sini pancar sertanya
Sidang ghafil(un) dengan karmanya
Lupakan nuri dengan warnanya Setelah zahir sekalian alam
Ia pun datang serupa Adam
Menjadi rasul Nabi yang khatam
Supaya ummatnya jangan karam Ia(pun) datang dengan burhannya
Lengkap lagi dengan ayat Qur’annya
Yogya kau turur kata firqannya
Supaya jadi engkau qurbannya Ahmad datang dengan satarnya
Mengatakan Allah dengan jabbarnya
Sungguhpun Tuhan dengan gaffarnya
Yogya kau turut akan qahharnya Nabi dan wali sekalian takut
Akan jabbarnya seperti laut
Manakan dapat engkau menyahut
Di laut qahhar ke hilir hanyut Ilmu jauhar sungguh pun qabil
Akan kuat badan hanya hasil
Pada ilmu Allah kerjanya ha’il
Antara Allah dan orang kamil Ilmu Allah terlalu ‘ali
Dengan jawhar tiadakan kafi
Ilmu Allah yogya kau cabut
Supaya dapat hidupmu baqi Jauhar itu terlalu mulia
Akan orang yang muda belia
Bukannya ilmu Allah yang sedia
Dengan ghayr Allah jangan bersetia
Pada dzat Allah tiadakan lulus
Akan orang yang berlumpai putus Ahl al-jawhar makanan kurus
Seperti Ahmad dan ‘Isa lukus Hamzah gikla berkawan-kawa
Mencari jauhar akan cahaya badan
Oleh makhluk pergi tertawan
Makanan jadi engkau bangsawan IV
Thayr al-‘Uryan unggas sultani
Bangsanya nur al-rahmani
Tasbihnya Allah subhani
Gila dan mabok akan rabbani Unggas itu terlalu pingai
Warnanya terlalu bisai
Rumahnya tiada berbidai
Duduknya da’im di balik tirai Awwalnya itu bernama ruhi
Millatnya terlalu sifui
Mashafnya besar suratnya kufi
Tubuhnya terlalu suci ‘Arasy Allah akan pangkalannya
Habib Allah akan taulannya
Bait Allah akan sangkarannya
Menghadap Tuhan dengan sopannya Sufinya bukannya kain
Fil-Mekkah da’im bermain
Ilmunya zahir dan batin
Menyembah Allah terlalu rajin Kitab Allah dipersandangnya
Ghayb Allah akan tandangnya
‘Alam lahur akan kandangnya
Pada da’irah Hu tempat pandangnya Dzikir Allah kiri-kananya
Fikir Allah rupa badannya
Syurbat tauhid akan minumannya
Da’im bertemu dengan Tuhannya Suluh terlalu terang
Harinya tiada berpetang
Jalannya terlalu henang
Barang mendapat dia terlalu menang Cahayanya itu tiada berha’il
Bayna ‘ilahi dan bayna-amil
Syariatnya terlalu kamil
Barang yang mungkir menjadi jahil Jika engkau dapat asal ilmunya
Engkaulah yang amat tertahunya
‘Amal ini engkau empunya
Di sana-sini engkaulah sukunya Ilmunya tiada berbagai
Fadunya yogya kau pakai
Tinggalkan ibu dan bapai
Menyembah Tuhan jangan engkau lali Ilmua ilmu yang pertama
Madzhabnya madzhab ternama
Cahayanya cahaya yang lama
Ke dalam surga bersama-sama Ingat-ingat hai anak dagang
Nafsumu itu lawan berperang
Angkamu jadikan sarang
Citamu satu jangan bercawang Siang hari hendak kau sa’im
Malamnya yogya kau qa’im
Kurangkan makan lagi dan na’im
Nafi dan itsbat kerjakan da’im Tuhan kita itu yang punya ‘alam
Menimbulkan Hamzah yang sudah karam
‘Isyq-nya jangan kau padam
Supaya wasil dengan laut dalam

loading...

Recent search terms:

Tags: #Hamzah Fansuri #kumpulan puisi #puisi cinta #Puisi Sufi

Rabiah al-Adawiyyah: Mahabbah Cinta
Banyak Ajaran sufi yang diriwayatkan berasal dari Rabiah al-Adawiyyah, yang seterusnya menjadi perbincangan
Puisi Cinta JALALUDIN RUMI
JALALUDIN RUMI  Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata, Kusimpan kasih-Mu dalam dada. Bila
WS Rendra : Makna Sebuah Titipan
Puisi WS Rendraloading... loading... Makna Sebuah Titipan Sering kali aku berkata, ketika orang
Puisi Rumi: Akan Jadi Apa Diriku
Sebuah Puisi singkat dari Jalalluddin Rumi, Namun penuh dengan makna yang sangat dalamloading...

Tinggalkan pesan "Puisi Sufi – Thair Al-‘Uryan, HAMZAH FANSURI"