Ibnu Khaldun, Latihan Rohaniah Dengan Rasa

loading...

Ibnu Khaldun Tersingkapnya hakikat realitas yang wujud, iluminasi, Ibnu Khaldun mengungkapkan bahwa, para sufi melakukan latihan rohaniah dengan mematikan kekuatan syahwat serta menggairahkan ruh dengan jalan menggiatkan dzikir.

ibnu kaldun

Dengan dzikir, jiwa bisa mengalami hakikat realitas tersebut, jika hal ini tercapai, maka yang wujud pun telah terkonsentrasikan dalam  dalam pemahaman seseorang, yang berarti ia berhasil menyingkap seluruh realitas yang wujud.

 


Ebook "Rahasia Makrifat Haji Ruh"
EbookEbook "Rahasia Makrifat Haji Ruh"

Menurut Ibnu Kaldun Ketersingkapan yang seperti ini timbul dari kelurusan jiwa, yang seperti cermin rata dan dapat memantulkan gambar.

Dalam karyanya, al-Muqaddimah,  berkata bahwa ada empat obyek utama para sufi:

  • Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta introspeksi diri
  • Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, misalnya: sifat-sifat rabbani, ‘arsy, kursi, malaikat, wahyu, ruh, hakikat realitas
    segala yang wujud, yang gaib maupun yang tampak, dan susunan kosmos, Pencipta serta penciptanya.
  • Peristiwa dalam alam maupun kosmos yang berpengaruh pada berbagai bentuk karomah dan keluarbiasaan.
  • Penciptaan ungkapan yang pengertiannya samar (syathahiyyat), reaksi masyarakat awam berupa mengingkarinya, menyetujui, menginterpretasikannya.( Ibnu Khaldun )

Adapun pendapat Ibnu Khaldun tentang Karomah atau hal-hal gaib maupun peristiwa alam, adalah hal yang benar serta tidak bisa dipungkiri, meskipun sebagian ulama mengingkarinya. Peristiwa tersebut berlandaskan pada ilmu khusus mereka sendiri, ilmu tentang rahasia nama serta huruf. Ibnu Khaldun

Mengenai ungkapan yang ganjil atau syathohiyyat, Ibnu Khaldun berpendapat, “Kata-kata samar, yang mereka ungkapkan dengan nama syathohiyyat, telah membuat mereka di kecam fuqoha. Ketahuilah sebenarnya mereka itu orang0orang yang sirna (fana) dari perasaannya. Apa yang menimpa mereka begitu menguasai dirinya, sehingga mereka menuju arah yang tidak mereka niatkan. Orang yang dalam keadaan fana (tidak menyadari diri) tidak terkena perintah, dan orang terpaksa tidak bisa dimaafkan. barangsiapa diantara mereka merupakan orang yang terkenal dengan keutamaan dan keteladanannya, maka ungkapannya hendaklah diinterpretasikan bahwa hal itu  dilakukan dengan niat baik. Sebab ungkapan perasaan demikian sulit ditafsirkan, karena dia kehilangan susunannya. Dan barang siapa diantara mereka merupakan orang yang tidak diketahui keutamaannya, maka ungkapan yang tidak bisa diinterpretasikan itu hendaklah ditolak. Begitu pula dengan orang yang menyatakan ungkapan sejenis, padahal dia menyadari perasaannya ataupun tidak dirasuki keadaan rohaniah, maka hendaknya ungkapannya juga ditolak. Atas dasar inilah para fuqoha dan para tokoh sufi menjatuhkan fatwa hukum mati terhadap al-Hallaj. dan Allah Yang lebih tahu.”

Baca Juga:
loading...
loading...
Baca juga:  Tingkat Keimaman dalam Tasawuf

Tags: #Ibnu Khaldun #makrifat #sufi #tasawuf

Kisah Abu Yazid al Busthami, Kitab Tadzkirotul Auliya
loading... Kakek Abu Yazid al-Busthami adalah seorang penganut agama Zoroaster. Ayahnya adalah seorang
Makna Puasa secara Sufistik
loading... Bagaimana pandangan kaum sufi pada umumnya, mengenai hakikat ibadah, terutama Makna Puasa
Ibnu Arabi, Sufi Pemikir Besar dari Spanyol
loading... Ibnu Arabi, yang  nama lengkapnya Abu Bakr Muhammad ibn ‘Ali ibn Ahmad
Ibrahim ibn Adham Ditegur Langsung Oleh Nabi Khidir
loading... Ibrahim ibn Adham merupakan raja Balkh yang sangat luas wilayah kekuasaannya. Kemana pun
  1. author

    jokowahyudi6 tahun ago

    Subhanallah.

    Balas

Tinggalkan pesan "Ibnu Khaldun, Latihan Rohaniah Dengan Rasa"