Kategori: Sufi

Ibnu Faridh, Sufi Cinta Ilahi

Ibnu Faridh yang mempunyai nama lengkap Syarifuddin ‘Umar Abu a-Hassan ‘Ali. Ibn al-Faridh adalah seorang sufi  yang  lebih mengutamakan cintanya  kepada Ilahi Robbi,  ini pula yang menjadi theme dalam puisi-puisi Ibnu Faridh. Mengenai karya-karyanya akan ada di artikel tersendiri Ibnu Faridh, Puisi-Puisi Cinta. Beliau lahir di Kairo tahun 576 H,  ayahnya berasal dari Hammah Syria,

Abu Hasan Syadzili, Guru Ibnu ‘Atho’illah al-Syakandari

Permalink to Abu Hasan Syadzili, Guru Ibnu ‘Atho’illah al-Syakandari
Tarikat Syadziliyyah dinisbatkan kepada Abu Hasan Syadzili, yang berasal dari Syadzilah Tunisia, dan dari sana pula bersama-sama muridnya pergi ke Mesir lalu tinggal di kota Iskandariah, sekitar tahun 642 H.  Syeikh Abu ‘Abbas al-Mursi ( wafat tahun 686 H) , yang kemudian menggantikan Abu Hasan Syadzili dalam memimpin Tariqoh ini kemudian digantikan oleh Ibnu  ‘Atho’illah

Nasehat Abu Nawas untuk Sang Sultan

Permalink to Nasehat Abu Nawas untuk Sang Sultan
Nasehat Abu Nawas untuk Sang Sultan, Ketika Sultan Harun Ar-Rasyid menunaikan ibadah haji, beliau sangat rindu pada Abu Nawas, sahabatnya. Pada Saat tiba di kota Kuffah, tiba-tiba terlihat oleh Sultan, Abu Nawas yang menaiki batang kayu, berlari-larian ke sana kemari dan diikuti anak-anak dengan riang. Wajah sang Sultan mendadak menjadi ceria dibuatnya. Pandangan Mata Sang

Hasan Bashri , Ibunya adalah Istri Nabi Muhammad

Permalink to Hasan Bashri , Ibunya adalah Istri Nabi Muhammad
Hasan Bashri , meninggal tahun 110 Hijjri yang nama lengkapnya ialah al Hasan ibn Abi al-Hasan Abu Sa’id, beliau lahir di Medinah tahun 21 Hijriyyah. Ibunya seorang hamba sahaya Ummu Salamah, isteri Nabi Muhammad saw. Hasan Bashri tumbuh dalam lingkungan yang sholeh dan mendalam pengetahuan Islam nya. Hasan Bashri pula menerima hadist dari sebagian sahabat Rosul.

Hakekat Fana, al-Qusyairi

Permalink to Hakekat Fana, al-Qusyairi
al Qusyairi, yang wafat pada tahun 465 H,ijriyyah  Karya al-Qusyairi yang sangat Fenomenal adalah Risalah Qusyairiyyah. Dalam Kitabnya tersebut al-Qusyairi berpendapat tentang Fana’ , “Barangsiapa menyaksikan terjadinya kemampuan diluar berbagai kondisi hukum maka dikatakan bahwa dia fana’ dari apapun yang terjadi pada makhluk.”